Sudah Lama Ku Menunggu
Kringgggg…. Jam bel berbunyi, kini saatnya pergiliran jam untuk mempromosikan
semua ekskul kepada siswa MOS, di tengah
trik matahari dengan segera kakak PK menyuruh kami untuk memasuki ruangan demo ekskul kelas. Kami langsung memasuk dari
satu ruangan ke ruangan lain, dari ekskul Pramuka sampai ekskul KIR, tetapi aku
hanya tertuju pada ekskul PMR. Pertama kali kami memasuki ruangan PMR, mereka memperkenalkan dirinya satu
persatu, lalu mempromosikan apa itu PMR. Saat mereka memperkenalkan diri, mata ku hanya
tertuju pada salah satu kakak yang berdiri di pojok
pintu sana yang bernama kak Baim. Dan ka Baim memberi kami petanyaan.
“Apa kepanjangan dari PMR?” kak Baim
bertanya
“Nama saya Tasya,
PMR adalah Palang Merah Remaja.” degan pedenya aku mengacungkan tangan.
“Ok Tasya kamu benar.” Ka Baim
membenarkannya.
OMG ka Baiiiiiiimm.. hatiku berbunga-bunga.
“ihhh kaya gitu
sih gue bisa kali. Kepengen banget lohh di kenal !” suara bisikan terdengar di
kupingku, tetapi aku tidak mempedulikannya.
Kegiatan MOS telah berakhir, kini aku resmi menjadi siswa SMAN 4 BEKASI. Seminggu kemudian aku memasuki kelas yang telah
ditentukan yaitu kelas X.10. Disana aku
mendapatkan teman baru bernama Chika. Pagi itu
aku menjalankan aktivitas biasa di sekolah.
Kringggg… Bel istirat pun berbunyi.
“tasya,
ayuk kita ke kantin!” Chika menarik tanganku.
“iya, sebentar.”
Aku menjawab
sambil merapikan buku
Di
kantin aku dan Chika
membeli ketropak. Ketika asikya makan, aku merasa haus dan pergi membeli minum, aku
membeli minum dan merasakan ada yang menyengolku, aku menoleh. Ternyata itu ka Baim,
aku terkaget ka Baim tersenyum kepadaku, aku membalas senyum manisnya. Aku
langsung buru-buru kembali ke Chika, Chika terheran dan bertannya “kamu kepa sya?”
Aku berkata sambil tersenyum “tadi chik, ka Baim senyum sama aku
loh.”
“ciyee..ciyeee
ada yang lagi kasmaran tuh.” Chika menggodaku.
“ihh apaan sih.”
Aku menyanggahnya.
Selama sebulan ini, aku menjalankan aktivitas
seperti biasa dan aku selalu bertemu dengan ka Baim.
“Sya ada ka Baim
tuh !!” sambil jalan Chika menyenggol ku
“iya aku tau.
Tapi…… dia tuh gak sadar juga sama aku.” Sambil memasang muka sedih. “aku capek Chik ngejar cintanya ka Baim,
tapi dianya gak sadar-sadar juga, padahal kan kita sering bertemu di jalan,
tanpa di sengaja pula, mungkin aku harus melupakan dia.”
“ciyuss? Mi
apa?” Chika
menggodaku.
“ihh aku itu
serius tau.”
Lalu aku dan Chika
pergi ke perpustakaan.
Bel pulang
berbunyi tepat pukul 4 sore, aku dan Chika
terburu-buru menuju ke parkiran. Di perjalanan
aku merasa selama ini ada yang memperhatikannku dari kejauhan.
“sya..sya itu
siapa sih? Perasaan, dari kemaren ngeliatin
kamu terus tau.” Chika Penasaran.
“aku gak tau,
mungkin ngeliatin kamu kali.” Kataku
“enggak tau, dia
ngeliatin kamu.” Chika menegaskan. Lalu mereka pergi meninggalkan parkiran.
Keesokan harinya, pagi pagi di kelas salah
satu teman
tetapi bukan Chika mencari ku.
“Sya ada yang
nyariin kamu tuhh katanya suruh kekantin.”
“emang siapa?” aku penasaran
“ gak tau,
kayaknya kakak kelas.”
“ oh ya udah deh
aku kesana, thank you ya.” Dengan penasaran aku pergi ke kantin.
Di
kantin
aku terkejut, karena ada seseorang yang
memanggilnya.
“hi Tasya, aku
Bram, mungkin kamu kaget kenapa aku panggil kamu kesini, aku sering banget
ngeliat kamu dari kejauhan, so… kamu mau gak jadi pacar aku?” ka Bram dengan pedenya nyatakan cinta ke
aku.
“hahh……” aku terkaget, tapi aku tanpa berfikir aku menerimanya,
dan entah apa yang membuatku menerimanya.
“ke kelas yukk” ka Bram
mengajakku.
“okeyy” dengan gugup aku terima ajakan ka Bram
Lalu aku dan ka Bram
kekelas, ketika di kelas, Chika yang
tadinya baru dateng terheran karena ka Bram
mengantarkan aku ke kelas.
“tas, Itukan
yang ngeliatin kamu terus, kok kamu sama dia sih?” bisik Chika
“ia Chik itu ka
Bram kelas XI Ipa 4, tadi dia nembak aku.”
“hah..? serius,
terus kamu jawab apa?”
“iiiyaa” dengan
tenangnya aku menjawab.
“what?, terus ka
Baim gimana dong?”
“gak tau dehh”
“tapi lohh masih
sukakan sama ka Baim.” Chika melihat aku dengan wajah anehnya.
“ya sudahlah,
sudah telanjur”
Tepat pukul 2 siang aku pulang dengan ka Bram,
ketika di parkiran kami bertemu dengan ka Baim
“hei bro whats
up?” sambil memukul pudak ka Baim.
“ehh elo.” Ka Baim
menjawabnya.
“kamu kenal sama
dia?” tanayaku
“iyalah diakan
sahabat aku” jawab ka Bram
Dengan kagetnya
aku sampai gugup berpapas muka denga ka Baim.
“ya udah yuk
kita pulang” ajakku
Saat aku dan ka
Bram meninggakan parkiran, aku tak sengaja melihat kaca sepion, ternya ka Baim
memperhatikanku goncengan dengan ka Bram.
Di
rumah
aku masih memikirkan hal itu “aduhh gimana nihh ka Bram sama ka Baim
sahabatan” kata hatiku. Disaat malam hari aku masih memikirkan hal itu tiba-tiba
Hpku berdering bertanda ada telphone
“haloo”
“hei Tas, gue
Baim nihh”
(Hahh ka Baim,
tau dari mana dia nomerku) di benakku
“KA BAIM?” aku terkaget
“ia gua Baim” ka
Baim mempertegaskan
“tau dari mana
kakak nomer aku”
“itu gak
penting, yang penting loh harus ke taman dekat rumah lo, gua tungguin”
Saking kagetnya tadi
aku mau bicara, ka Baim sudah menutup telephonenya. Tanpa berfikir panjang aku
pergi ke Taman.
Di taman aku celingak-celinguk
aja mencari ka Baim, ternya dia ada di belakang aku, aku terkaget
dan memasang muka merah didepannya. Lalu ka Baim
memegang tanganku dan menyatakan perasaannya ke pada aku
“tas sebernya gua udah suka sama loh pas
pertama kali kita bertemu di kantin lu lagi beli minum, tapi gua gak berani
nyatakan cinta sama loh.” Ka Baim mengungkapkan semua isi hatinya. Tapi ketika
ka Baim
belum selesai berbicara tiba-tiba aku melepaskan tanganku dari tangan ka Baim
“ka… apakah kaka gak sadar, aku tuh suka sama
kaka dari dulu pas kaka mempromosikan ekskul, tapi kenapa kakak nyatakan
perasaan sekarang?, ini udah terlambat ka aku udah punya pacar.” tiba-tiba air
menetes di pipiku.
“tapi sekarang
kamu masih kan?” Tanya ka Baim
Aku tambah meneteskan air mataku dan
buru-buru menghapusnya “iya aku masih suka sama kaka” aku menjawabnya dengan
tangisan yang tersedak-sedak, lalu aku pergi lari meninggalkannya.
Ketika itu juga
ada seseorang yang mendegar pembicaraanaku sama ka Baim ternyata orang
tersebut adalah ka Bram
“Bram… udah lama
loh disini” Tanya ka Baim ke ka Bram.
“IYA, kenapa?,
udah lama gua disini, teman macam apa lohh yang menusuk dari belakang?”ka Bram
memasang muka marah.
“Engggg……”belum
sempat ngomong ka Bram memukul ka Baim tanpa hentinya, ka Baim terjatuh babakbelur,
ketika aku
berlari aku
mendengar pukulan dari arah belakang, aku berbalik badan melihat ka Baim
terjatuh pingsan dari kejauhan, segera aku menghampiri dan menolong ka Baim,
tetapi di saat aku menolongnya aku menyuruh ka Bram untuk pergi jauh-jauh.
“ka..ka.. sadar
aku suka sama kakak” aku menangis kejer dan air mataku mengenai muka ka Baim.
Pada akhirnya ka Baim segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Ke
esokan harinya
aku menjalankan
aktivitas seperti biasa di sekolah, dan Chika terheran dengan raut wajahku yang muram. Aku menceritakan semua yang terjadi di
taman, Chika
ikut prihatin dengan kondisiku. Dan aku segera mengajak Chika untuk menjenguk ka Baim
dirumah sakit ketika pulang sekolah
nanti. Lalu sekolah telah usai Chika dan aku segera pergi ke rumah sakit dan
memasukin ruangan rawat inap.
“heiii udah
sembuh, ini chika aku kenalin teman aku.”
Ka Baim hanya tersenyum
kepada aku,
“ka maafin aku
ya, gara-gara aku kaka jadi begini.” Sambil memegang tangan ka Baim
“iya tas gak
pa-pa, ini bukan salah kamu ini semua salah aku yang gak berani nyatakan cinta
ke kamu”
“suttttt..
Sudah-sudah” aku sambil memberhentika
perkataannya dan menatap matanya.
pada saat itu
juga terdengar suara ketukan pintu ternyata itu ka Bram membawa segengam
bungkusan.
“Baim soal
kemarin maafin gua yaa, gua gak mau persahabattan kita hancur gara-gara hal
sepele ini, dan gua udah ikhlasin loh sama Tasya.” Ka Bram meminta maaf ke ka
Baim,
Dan lagi-lagi ka Baim
hanya tersenyum manis kepada kita semua bertanda dia sudah memaafkan kejadian
yang telah terjadi. Senyuman manis itu gak berubah ketika dia mempromosikan
ekskul PMR hehe……
Happy ending
hiii, terima kasih sudah membaca cerpen aku. ini adalah cerpen pertama yang aku buat, ya walaupun gak sebagus cerpen-cerpen di luar sana. semoga yang membaca dapat memberi kenang-kenagan yang telah membacanya