Senin, 25 Februari 2013

cerpenku



Sudah Lama Ku Menunggu

Kringgggg…. Jam bel berbunyi, kini saatnya pergiliran jam untuk mempromosikan semua ekskul kepada siswa MOS, di tengah trik matahari dengan segera kakak PK menyuruh kami untuk memasuki ruangan demo ekskul kelas. Kami langsung memasuk dari satu ruangan ke ruangan lain, dari ekskul Pramuka sampai ekskul KIR, tetapi aku hanya tertuju pada ekskul PMR. Pertama kali kami memasuki ruangan PMR, mereka memperkenalkan dirinya satu persatu, lalu mempromosikan apa itu PMR. Saat mereka memperkenalkan diri, mata ku hanya tertuju pada salah satu kakak yang berdiri di pojok pintu sana yang bernama kak Baim. Dan ka Baim memberi kami petanyaan.
“Apa kepanjangan dari PMR?” kak Baim bertanya
“Nama saya Tasya, PMR adalah Palang Merah Remaja.” degan pedenya aku mengacungkan tangan.
“Ok Tasya kamu benar.” Ka Baim membenarkannya.
OMG ka Baiiiiiiimm.. hatiku berbunga-bunga.
“ihhh kaya gitu sih gue bisa kali. Kepengen banget lohh di kenal !” suara bisikan terdengar di kupingku, tetapi aku tidak mempedulikannya.  


Kegiatan MOS telah berakhir, kini aku resmi menjadi siswa SMAN 4 BEKASI. Seminggu kemudian aku memasuki kelas yang telah ditentukan yaitu kelas X.10. Disana aku mendapatkan teman baru bernama Chika. Pagi itu aku menjalankan aktivitas biasa di sekolah.
Kringggg… Bel istirat pun berbunyi.
tasya, ayuk kita ke kantin!” Chika menarik tanganku.
“iya, sebentar.” Aku menjawab sambil merapikan buku
Di kantin aku dan Chika membeli ketropak. Ketika asikya makan, aku merasa haus dan pergi membeli minum, aku membeli minum dan merasakan ada yang menyengolku, aku menoleh. Ternyata itu ka Baim, aku terkaget ka Baim tersenyum kepadaku, aku membalas senyum manisnya. Aku langsung buru-buru kembali ke Chika, Chika terheran dan bertannya “kamu kepa sya?”
Aku berkata sambil tersenyum “tadi chik, ka Baim senyum sama aku loh.”
“ciyee..ciyeee ada yang lagi kasmaran tuh.”     Chika menggodaku.
“ihh apaan sih.” Aku  menyanggahnya.


Selama sebulan ini, aku menjalankan aktivitas seperti biasa dan aku selalu bertemu dengan ka Baim.
“Sya ada ka Baim tuh !!” sambil jalan Chika menyenggol ku
“iya aku tau. Tapi…… dia tuh gak sadar juga sama aku.” Sambil memasang muka sedih. “aku capek Chik ngejar cintanya ka Baim, tapi dianya gak sadar-sadar juga, padahal kan kita sering bertemu di jalan, tanpa di sengaja pula, mungkin aku harus melupakan dia.”
“ciyuss? Mi apa?” Chika menggodaku.
“ihh aku itu serius tau.”
Lalu aku dan Chika pergi ke perpustakaan.


Bel pulang berbunyi tepat pukul 4 sore, aku dan Chika terburu-buru menuju ke parkiran. Di perjalanan aku merasa selama ini ada yang memperhatikannku dari kejauhan.
“sya..sya itu siapa sih? Perasaan, dari kemaren ngeliatin  kamu terus tau.” Chika Penasaran.
“aku gak tau, mungkin ngeliatin kamu kali.” Kataku
“enggak tau, dia ngeliatin kamu.” Chika menegaskan. Lalu mereka pergi meninggalkan parkiran.


Keesokan harinya, pagi pagi di kelas  salah satu teman tetapi bukan Chika mencari ku.
“Sya ada yang nyariin kamu tuhh katanya suruh kekantin.”
“emang siapa?” aku penasaran
“ gak tau, kayaknya kakak kelas.”
“ oh ya udah deh aku kesana, thank you ya.” Dengan penasaran aku pergi ke kantin.
Di kantin aku terkejut, karena ada seseorang yang memanggilnya.
“hi Tasya, aku Bram, mungkin kamu kaget kenapa aku panggil kamu kesini, aku sering banget ngeliat kamu dari kejauhan, so… kamu mau gak jadi pacar aku?”  ka Bram dengan pedenya nyatakan cinta ke aku.
“hahh……” aku terkaget, tapi aku tanpa berfikir aku menerimanya, dan entah apa yang membuatku menerimanya.
“ke kelas yukk” ka Bram mengajakku.
“okeyy” dengan gugup aku terima ajakan ka Bram


Lalu aku dan ka Bram kekelas, ketika di kelas, Chika yang tadinya baru dateng terheran karena ka Bram mengantarkan aku ke kelas.
“tas, Itukan yang ngeliatin kamu terus, kok kamu sama dia sih?” bisik Chika
“ia Chik itu ka Bram kelas XI Ipa 4, tadi dia nembak aku.”
“hah..? serius, terus kamu jawab apa?”
“iiiyaa” dengan tenangnya aku menjawab.
“what?, terus ka Baim gimana dong?”
“gak tau dehh”
“tapi lohh masih sukakan sama ka Baim.” Chika melihat aku dengan wajah anehnya.
“ya sudahlah, sudah telanjur”


Tepat pukul 2 siang aku pulang dengan ka Bram, ketika di parkiran kami bertemu dengan ka Baim
“hei bro whats up?” sambil memukul pudak ka Baim.
“ehh elo.” Ka Baim menjawabnya.
“kamu kenal sama dia?” tanayaku
“iyalah diakan sahabat aku” jawab ka Bram
Dengan kagetnya aku sampai gugup berpapas muka denga ka Baim.
“ya udah yuk kita pulang” ajakku
Saat aku dan ka Bram meninggakan parkiran, aku tak sengaja melihat kaca sepion, ternya ka Baim memperhatikanku goncengan dengan ka Bram.


Di rumah aku masih memikirkan hal itu “aduhh gimana nihh ka Bram sama ka Baim sahabatan”  kata hatiku. Disaat malam hari aku masih memikirkan hal itu tiba-tiba Hpku berdering bertanda ada telphone
“haloo”
“hei Tas, gue Baim nihh”
(Hahh ka Baim, tau dari mana dia nomerku) di benakku
“KA BAIM?” aku terkaget   
“ia gua Baim” ka Baim mempertegaskan
“tau dari mana kakak nomer aku”
“itu gak penting, yang penting loh harus ke taman dekat rumah lo, gua tungguin”
Saking kagetnya tadi aku mau bicara, ka Baim sudah menutup telephonenya. Tanpa berfikir panjang aku pergi ke Taman.


Di taman aku celingak-celinguk aja mencari ka Baim, ternya dia ada di belakang aku, aku terkaget dan memasang muka merah didepannya. Lalu ka Baim memegang tanganku dan menyatakan perasaannya ke pada aku
tas sebernya gua udah suka sama loh pas pertama kali kita bertemu di kantin lu lagi beli minum, tapi gua gak berani nyatakan cinta sama loh.” Ka Baim mengungkapkan semua isi hatinya. Tapi ketika ka Baim belum selesai berbicara tiba-tiba aku melepaskan tanganku dari tangan ka Baim
ka… apakah kaka gak sadar, aku tuh suka sama kaka dari dulu pas kaka mempromosikan ekskul, tapi kenapa kakak nyatakan perasaan sekarang?, ini udah terlambat ka aku udah punya pacar.” tiba-tiba air menetes di pipiku.
“tapi sekarang kamu masih kan?” Tanya ka Baim
Aku tambah meneteskan air mataku dan buru-buru menghapusnya “iya aku masih suka sama kaka” aku menjawabnya dengan tangisan yang tersedak-sedak, lalu aku pergi lari meninggalkannya.
Ketika itu juga ada seseorang yang mendegar pembicaraanaku sama ka Baim ternyata orang tersebut adalah ka Bram
“Bram… udah lama loh disini” Tanya ka Baim ke ka Bram.
“IYA, kenapa?, udah lama gua disini, teman macam apa lohh yang menusuk dari belakang?”ka Bram memasang muka marah.
“Engggg……”belum sempat ngomong ka Bram memukul ka Baim tanpa hentinya, ka Baim terjatuh babakbelur, ketika aku berlari aku mendengar pukulan dari arah belakang, aku berbalik badan melihat ka Baim terjatuh pingsan dari kejauhan, segera aku menghampiri dan menolong ka Baim, tetapi di saat aku menolongnya aku menyuruh ka Bram untuk pergi jauh-jauh.
“ka..ka.. sadar aku suka sama kakak” aku menangis kejer dan air mataku mengenai muka ka Baim. Pada akhirnya ka Baim segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Ke esokan harinya aku menjalankan aktivitas seperti biasa di sekolah, dan Chika terheran dengan raut wajahku yang muram. Aku menceritakan semua yang terjadi di taman, Chika ikut prihatin dengan kondisiku. Dan aku segera mengajak Chika untuk menjenguk ka Baim dirumah sakit  ketika pulang sekolah nanti. Lalu sekolah telah usai Chika dan aku segera pergi ke rumah sakit dan memasukin ruangan rawat inap.
“heiii udah sembuh, ini chika aku kenalin teman aku.”
Ka Baim hanya tersenyum kepada aku,
“ka maafin aku ya, gara-gara aku kaka jadi begini.” Sambil memegang tangan ka Baim
“iya tas gak pa-pa, ini bukan salah kamu ini semua salah aku yang gak berani nyatakan cinta ke kamu”
“suttttt.. Sudah-sudah”  aku sambil memberhentika perkataannya dan menatap matanya.
pada saat itu juga terdengar suara ketukan pintu ternyata itu ka Bram membawa segengam bungkusan.
“Baim soal kemarin maafin gua yaa, gua gak mau persahabattan kita hancur gara-gara hal sepele ini, dan gua udah ikhlasin loh sama Tasya.” Ka Bram meminta maaf ke ka Baim,
Dan lagi-lagi ka Baim hanya tersenyum manis kepada kita semua bertanda dia sudah memaafkan kejadian yang telah terjadi. Senyuman manis itu gak berubah ketika dia mempromosikan ekskul PMR hehe……

Happy ending 

hiii, terima kasih sudah membaca cerpen aku. ini adalah cerpen pertama yang aku buat, ya walaupun gak sebagus cerpen-cerpen di luar sana. semoga yang membaca dapat memberi kenang-kenagan yang telah membacanya 

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar